Ilustrasi perselingkuhan

Ilustrasi kisah rumah tangga yang gak harmonis karena kasus perselingkuhan. (Freepik)

ASIA.COM – Kasus perselingkuhan adalah ranah yang paling sering diterima di agensi detektif Swasta. Tak terkecuali agensi dari Detektif Jubun, Aman Sentosa Investigation Agency yang juga banyak menerima kasus perselingkuhan.

Namun di antara kasus perselingkuhan yang diterima Jubun, ada satu kasus yang berkaitan dengan urusan keperkasaan pria di atas ranjang. Sebuah kasus yang datang ke agensinya pada 2013 lalu.

Seperti yang diungkapkan dalam buku “The Life of Private Investigator”, Jubun menceritakan pengalamannya tersebut yang dianggap pengalaman paling unik. Bahkan cerita ini juga sempat diungkap dalam media daring terkemuka.

Ranjang yang Dingin

Saat itu, Jubun dihubungi seorang klien yang merupakan seorang ibu muda yang juga seorang karyawati bank swasta terkemuka di Indonesia. Ia kemudian mengajak pertemuan empat mata di salah satu restoran terkemuka.

Baca Juga: Detektif Jubun Sebut Bisnis Detektif Swasta Menguntungkan, Bayaran Tinggi dari Kasus Perselingkuhan

Sang klien menceritakan bila ia baru tiga tahun menikah, namun belum punya anak. Ternyata masalah ini menjadi awal petaka sehingga kehidupan ranjang dengan suami terasa dingin.

“Suaminya selalu menolak karena katanya kemaluannya tidak bisa berdiri. Sebenarnya sang istri sudah berulang kali mengajak untuk periksa ke dokter. Namun Joni tidak mau, selalu dengan alasan yang tidak jelas.”

Kecurigaan

Ilustrasi perselingkuhan

Ilustrasi perselingkuhan (Freepik)

Sampai suatu hari, sang klien menceritakan bila ia menemukan nota pembelian perlengkapan bayi di kotak sampah mobil. Walaupun sudah robek menjadi beberapa bagian tapi terlihat dengan jelas ada tercantum baju bayi.

“Klien saya mengumpulkan sobekan-sobekan kertas tersebut dan dirangkai menjadi satu bagian yang utuh hingga terbaca jelas bahwa suaminya belanja keperluan bayi dan melakukan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit atas nama dirinya.”

Klien pun meminta saya untuk mengungkap kasus tersebut. Terutama tentang pembelian perlengkapan bayi tersebut, khawatir sang suami sudah memiliki anak di luar pernikahan dengan klien. Jubun pun menyanggupinya dan meminta waktu satu bulan.

Improvisasi untuk Mendapat Pengakuan

Jubun pun mengumpulkan timnya dan membagikan data sang klien. Salah satu strategi untuk mendapatkan data sang klien adalah dengan membuat sebuah kusioner, dimana kedua timnya akan menyamar sales kopi yang dapat meningkatkan daya seksualitas pada pria.

Baca Juga: Kisah Penyelidikan Termahal Detektif Jubun: Melacak Jejak Target Kasus Skema Ponzi hingga Negeri Singa

Sayangnya target tak mudah ditembus karena menganggap bahwa permainan sales kopi ini adalah penipuan.

Jubun pun segera berimprovisasi dengan menawarkan sebuah hadiah smartphone yang dengan terpaksa mereka harus mengeluarkan dana untuk itu. Dengan penuh kesabaran dan cara komunikasi yang cukup mumpuni. akhirnya berhasil meyakinkan Joni dengan sebuah smartphone.

Kedua tim Jubun kembali menyamar sebagai pewawancara dengan alasan keperluan penyerahan hadiah. Tim memberikan ponsel tersebut kepada Joni dan produk kopi peningkat gairah. Kemudian tim memberikan selembar kertas berisi kuesioner (kuis) berisi pertanyaan yang harus diisi.

“Tim juga melakukan tanya jawab dengan Joni seputar urusan ranjang: kehidupan seksual yang bagaimana, suka gaya apa, durasi berapa lama, seminggu berapa kali dan lain sebagainya. Selain kuesioner yang ditandatangani Joni, tim saya juga sempat merekam saat wawancara. Jadi semua ada buktinya,” katanya.

Terungkapnya fakta mengejutkan

Dari hasil wawancara tersebut, Jubun mendapatkan pengakuan dari klien yang ternyata mengaku sudah memiliki anak. Tentunya bukan anak dari sang klien.

Jubun pun beralih ke misi selanjutnya, yaitu mengungkap identitas istri siri sang target. Berbekal nota pembelian perlengkapan bayi, Jubun dan tim menyamar ke toko perlengkapan bayi.

Baca Juga: Sisi Positif Kogoro Mouri: Bukan Sekedar Detektif Swasta ‘Bumbling’ yang Payah

“Kita menyamar sebagai tim investigasi yang diutus oleh Bank Penerbit Kartu Kredit yang digunakan Joni. Tim mengatakan diduga ada penyalahgunaan kartu kredit,” kata Jubun.

Dengan kemampuan berkomunikasi yang handal dan skenario yang tertata rapi, Angga berhasil meminta agar rekaman CCTV dibuka untuk melihat dan memastikan siapa yang berbelanja menggunakan kartu kredit tersebut.

Awalnya sulit, mereka harus kembali di hari berikutnya. Pihak toko meminta pihak kami tidak boleh merekam. Hanya boleh lihat saja tapi tidak boleh merekam atau mengambilnya dengan alasan privasi. Beruntungnya mereka sudah membawa spy cam atau kamera tersembunyi, sehingga tim bisa merekam diam-diam ketika video diputar.

Setelah ditelusuri rekaman CCTV, ternyata Joni bersama dengan seorang wanita ketika datang berbelanja di toko tersebut.

“Setelah mendapatkan bukti dan temuan tersebut. Saya pun mengajak klien untuk bertemu. Saya pun menyerahkan data-data tersebut dalam bentuk memory card. ia tidak sabaran dan langsung memasukkan ke dalam ponselnya untuk melihat isinya. Setelah melihat isinya, klien langsung histeris dan menangis sejadi-jadinya,” kenang Jubun.

Ternyata wanita yang menjadi istri dan ibu anak suaminya adalah mantan asisten rumah tangga di rumah mertua klien, alias ibunda dari sang suami. Ini Si Wati. Dia mantan ART (Asisten Rumah Tangga) di rumah mertua saya.”

Meski sempat emosional, perlahan-lahan Bunga mulai tenang dan kami mengakhiri pertemuan. Klien memutuskan untuk menyelesaikannya dengan cara sendiri. (Detektif Jubun)