
Penjelasan Detektif Jubun tentang kasus yang ditangani di podcast
ASIA.COM – Dalam dunia investigasi privat, kasus yang paling sering muncul ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: perselingkuhan dan penipuan cinta. Detektif Jubun mengungkap, “Top itu… penipuannya love scam… perselingkuhnya makin banyak.”
Menurutnya, mayoritas klien datang dari kalangan perempuan. “Lebih banyak perempuan… karena memang lebih banyak Bapak-Bapaknya yang nakal,” ujarnya tanpa ragu.
Namun ia juga menegaskan bahwa perempuan pun tidak sepenuhnya bebas dari kasus serupa.
Menariknya, klien biasanya sudah memiliki intuisi kuat sebelum datang.
“Mereka bukan tidak tahu apa-apa… mereka udah punya banyak bukti-bukti,” jelas Jubun. Namun mereka membutuhkan validasi konkret—foto, video, atau momen tertangkap basah.
Tujuan klien pun beragam. Ada yang sekadar ingin tahu, ada yang ingin mempertahankan rumah tangga. “Dia ingin… ‘gue yang berhak deh, yuk mundur deh’,” kata Jubun menirukan pola pikir klien.
| Baca Juga: Detektif Jubun Ungkap Realita Profesi Detektif Swasta di Indonesia di Poscast Grace Tahir |
Namun pekerjaan ini tidak selalu hitam-putih. Jubun sering dihadapkan pada dilema moral. “Awalnya pasti saya bertanya… nanti kalau Ibu udah punya bukti-bukti, Ibu maunya bagaimana?” Ia menekankan bahwa pekerjaannya bukan sekadar memberi bukti, tetapi juga membantu klien mengambil keputusan.
Ia bahkan berperan sebagai semacam konselor.
“Kami advice… pembinaan-pembinaan, pemulihan-pemulihan.” Pendekatan ini menunjukkan sisi kemanusiaan dalam profesinya.
Kasus love scam juga meningkat drastis seiring perkembangan teknologi. “Banyak korban… kena di internet, kemudian jatuh cinta, dan akhirnya kena tipu.” Menurutnya, kemudahan interaksi digital membuat orang lebih cepat percaya.
Ia menjelaskan fenomena ini dengan sederhana: “Via internet itu hanya komen-komen sedikit… kemudian jatuh cinta.” Hal ini membuka celah besar bagi pelaku penipuan.
Internet juga menjadi alat utama dalam investigasi. “90 persen dari internet,” ungkap Jubun. Ia memanfaatkan jejak digital, relasi pertemanan, hingga data publik untuk melacak target.
Namun ia menolak metode ilegal seperti hacking. “Saya tidak percaya dengan hacker… tidak efektif.” Baginya, kreativitas lebih penting daripada teknologi canggih.
Kasus-kasus perselingkuhan pun memiliki pola tertentu. “Yang paling populer itu memang di tempat-tempat fitness,” katanya. Selain itu, apartemen juga sering menjadi lokasi pertemuan rahasia, terutama bagi kalangan ekonomi menengah ke atas.
Meski sering mengungkap kebenaran pahit, Jubun tetap menjaga empati terhadap klien. Ia memahami bahwa tidak semua orang siap menghadapi fakta. “Ada ibu-ibu… ‘Pak jangan VR ke gue, gue nggak kuat’.”
Pada akhirnya, pekerjaan ini bukan sekadar membongkar rahasia, tetapi juga menghadapi realitas hubungan manusia yang kompleks—di mana cinta, kepercayaan, dan pengkhianatan saling berkelindan.