Detektif Jubun di podcast Grace Tahir

Cerita detektif Jubun di podcast Grace Tahir

ASIA.COM – Pekerjaan detektif swasta sering dianggap penuh teknologi canggih. Namun Detektif Jubun justru menekankan kreativitas sebagai kunci utama.

“Yang penting punya banyak ide-ide… banyak kreatifitas,” kata Jubun saat menjadi bintang tamu di podcast Grace Tahir.

Salah satu contoh paling unik adalah metode penyamaran. Ia menceritakan bagaimana timnya pernah menemukan orang hilang selama 7 tahun.

“Kami nyewa badut… datang ke sekolah… menyebutkan nama anak… akhirnya dapat alamatnya.”

Metode ini menunjukkan bahwa investigasi tidak selalu soal teknologi, tetapi juga strategi sosial.

Timnya bekerja dalam tiga pendekatan utama: digital, sosial, dan lapangan. “Ada tim yang bermain di internet… ada tim penyamaran… dan tim pengintai.”

Kombinasi ini memungkinkan mereka mendapatkan informasi secara menyeluruh.

Baca Juga: Detektif Jubun ungkap Kasus yang Paling banyak Ditangani di Podcast: Perselingkuhan dan Love Scam

Meski demikian, Jubun menegaskan batas etika yang ketat.

“GPS itu tidak dibenarkan… hidden camera nggak boleh… kita nggak menggunakan itu.” Ia hanya melakukan pengambilan gambar ketika target sudah berada di lokasi publik atau semi-publik.

Privasi menjadi isu penting dalam pekerjaannya. Namun ia menekankan bahwa investigasi dilakukan atas dasar hubungan keluarga.

“Kita hanya menerima klien kalau ada hubungan keluarga… untuk suami, istri, anak.”

Selain itu, ia juga selektif dalam menerima klien. “Ketika kita melihat klien… dengan niat yang tidak baik… kita tidak mau.”

Ia bahkan pernah menolak kasus perebutan anak karena dianggap tidak etis.

Situasi menarik lainnya adalah ketika pihak yang diselidiki mencoba “membeli” dirinya.

“Suaminya… menawarkan payment lebih lagi. Kita akhirnya menjadi penghubung… dan menjadi baik lagi.”

Peran ini membuatnya lebih dari sekadar detektif. Ia juga menjadi penengah konflik rumah tangga.

“Bukan hanya membongkar fakta… kita juga mentor dia,” katanya.

Kepercayaan menjadi nilai utama dalam pekerjaannya.

“Tidak boleh sembarangan… tidak boleh spill sana-sini.” Ia bahkan menjaga kerahasiaan hingga ke lingkup pribadi, termasuk keluarga.

Menariknya, Jubun juga aktif dalam kegiatan keagamaan, yang memengaruhi pendekatannya. Ia melihat pekerjaannya sebagai sarana membantu orang. “Bagaimana kita mentor mereka… bagaimana ibu mesti mengampuni.”

Fenomena sosial yang ia lihat pun cukup mengkhawatirkan.

“Makin tahun, makin meningkat… perselingkuhan dan penipuan.” Ia mengaitkan hal ini dengan perubahan cara orang menjalin hubungan di era digital.

Di tengah kompleksitas tersebut, ia tetap berpegang pada prinsip dasar: kejujuran dan integritas.

“Yang penting jujur… yang penting cerdas.”

Dari kisahnya, terlihat bahwa dunia investigasi bukan sekadar memburu fakta, tetapi juga memahami manusia—dengan segala emosi, konflik, dan pilihan hidupnya.